Aku ingin bertanya, apa makna solidaritas?
Sifat satu rasa atau sebuah kesetia kawanan?
Betulkah begitu? Ah yang betul?
Begini, saat kau senang kau bersama siapa
Dan saat kau susah apa ada yang menemani?
Padahal saat kawanmu susah kau siap siaga membantu. Lalu apa balasannya? Bukan maksud mengungkit, tapi kita hidup haruslah seimbang. Jangan hanya mau diberi tapi tak mau memberi.
Ada kawan yang mencari padahal ada maunya, mencari hanya ketika membutuhkan saja. Tapi sebentar, apa itu bisa disebut kawan?
Maka sesungguhnya makna 'solidaritas' yang biasa disebut-sebut hanyalah sampah!
Berisi basa-basi semata, itu hipokrisi.
Kini dunia penuh dengan friksi, banyak kaum sok simpatis padahal sebetulnya apatis. Menjadi orang baik memang harus, tapi jangan terlalu baik. Kau mati-matian membela orang lain, orang lain malah berusaha mematikan dirimu.
Saat kawanmu ulang tahun, kau paling repot mempersiapkan ini itu, kejutan katanya. Tapi lihatlah, saat kau yang berulang tahun. Apa ada yang berbuat sedemikian rupa? Ada tidak? Atau yang kau dapatkan hanya ucapan semata? Sini kuberi tahu, sekali lagi, ucapan itu hanya basa-basi, doa-doa itu hanya sekadar angin lewat. Tidak ada yang benar-benar tulus mendoakanmu bukan?
Seseorang yang kau bilang sahabat sejati itu, pasti pernah membicarakan sedikit aibmu saat kau tak ada. Seorang sahabat yang kau bilang selalu ada untukmu, mungkin sebetulnya ia memiliki maksud lain. Sebab ada yang memelukmu erat, padahal dibelakangmu ia memegang pisau berkarat. Ada yang seperti belati lembut, agar bisa menusuk dengan terpaut.
Kemunafikan tak bisa dipungkiri lagi, sudah saatnya kau membuka mata. Lihat sekelilingmu, sebab sebetulnya di dunia ini kau hanyalah sendiri. Tidak ada yang pernah betul-betul mengasihani jiwamu selain dirimu sendiri.
Apakah ada yang pernah mengalami hal tersebut? Atau bahkan salah satu dari kalianlah yang menjadi tokoh hipokrisi dalam tulisan ini?
—nurauliasari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar