Hari ini pejabat datang, entah apa tujuannya. Mereka datang dengan sebuah bingkisan di tangan. Dan tampak kamera dipegang oleh salah satu reporter televisi.
"Anak-anak, kita mau masuk tv, nanti kalian jangan lupa senyum ya, kalo sudah senyum, nanti bapak kasih bingkisannya."
"Senyum doang dapet makanan pak?" Tanya anak-anak dengan mata berbinar penuh harapan dan kebahagiaan
"Iya" ujar pejabat sembari memberi senyum yang sedikit dipaksakan.
Mulailah reporter menghitung mundur untuk sebuah perekaman berita. Entah berita apa, tak ada penjelasan lebih lanjut dari pejabat itu kepada anak-anak desa.
"Hari ini merupakan hari gizi nasional. Dan bertepatan dengan hari gizi nasional, salah satu calon kepala daerah membagi-bagikan bingkisan bergizi yang terdiri dari susu, daging, dan sebagainya kepada anak-anak desa. Mari kita berbincang sebentar kepada pahlawan anak desa tersebut..."
-----
Selesai perekaman, pejabat tersebut menepati janjinya, ia memberi sebuah bingkisan yang ada di tangannya kepada sekitar dua puluh anak-anak desa. Anak-anak desa sangat bahagia meskipun harus membagi rata sebuah bingkisan tersebut. Sebab, mereka makan seperti itu hanya lima tahun sekali, yaitu, hanya ketika musim pilkada saja.
Anak-anak berlarian, tertawa penuh kebahagiaan.
"Selamat hari gizi nasional semuanya!!!!" Teriak mereka memenuhi isi desa. Mereka berteriak sambil berlari tanpa pakaian, tulang-tulangnya nyaris tak tertutupi daging, seperti tengkorak hidup berlarian; anak kurang gizi, meneriaki hari gizi.
Tanpa niat mengurangi kebahagiaannya, aku bertanya pada salah satu anak desa,
"Hari gizi itu apa?"
"Hari gizi itu hari dimana orang diharuskan bersikap baik ka, terutama pejabat. Mereka harus baik sama anak-anak. Seperti tadi, pejabat yang memberi kami makanan enak." Jawab mereka polos dengan senyum yang sangat lebar.
"Oh begitu ya, apakah setiap tahun seperti ini?" Tanyaku sembari mengumpat tangis getir dalan hati.
"Gatau ka, lupa. Tapi kayanya ga setiap tahun deh. Kalo ga salah cuma lima tahun sekali, tanggalnya pun tak sama. Hari yang aneh ka, diperingati di tanggal yang berbeda. Ah entahlah, yang penting perut dapat makan enak ka." Katanya, masih dengan senyum yang sama, senyum polos bahagia nan sempurna.
-----
Politik itu kejam, ditambah media sebagai sarana. Semakin kejamlah mereka.
Anak kurus kekurangan yang biasanya penuh kesedihan, tiba-tiba muncul di layar kaca dengan wajah yang berbeda. Pintar sekali merubah wajah dengan dusta belaka.
Kasihan sekali mereka, anak desa yang hanya dimanfaatkan demi sebuah kepentingan semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar