Pendahuluan
sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar (QS Al-Hujurat: 15)
Berangkat dari ayat di atas, dimana penulis dalam hal ini berpikir, mengapa Allah menyebutkan bahwa salah satu kriteria mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki sikap tidak ragu-ragu? Apakah keistimewaan dari sikap tidak ragu-ragu tesebut, sampai Allah memberikan penghargaan kepada orang yang tidak ragu-ragu sebagai kriteria mukmin yang sebenarnya dan apa dampaknya jika seorang mukmin bersikap ragu-ragu.
Jika kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa dihadapkan dengan suatu problematika hidup, dimana problematika tersebut seperti sahabat yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Dalam menghadapi suatu problematika, semisal ketika kita dihadapkan dengan beberapa pilihan-pilihan untuk menyelesaikan problematika tersebut, tak jarang kita mengalami suatu keadaan, di mana kita merasa bimbang atau ragu-ragu dalam mengambil keputusan berdasarkan pilihan yang ada. Yang jika tidak segera ditentukan pilihannya, akan berdampak kurang baik dan problematika yang dihadapi tidak terselesaikan.
Dari pemaparan realitas di atas, dalam hal ini penulis hendak membahas mengenai apa itu sikap ragu-ragu, dampak yang dihasilkan serta solusinya.
pembahasan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ragu adalah (1) keadaan tidak tetap hati (dl mengambil keputusan, menetukan pilihan, dsb); bimbang. (2) sangsi (kurang percaya). Sedangkan ragu-ragu ialah bimbang; kurang percaya diri.
Sehingga dari arti ragu menurut KBBI di atas, dapat disimpulan bahwa ragu-ragu ialah keadaan di mana seseorang tidak tetap hati dalam mengambil sebuah keputusan, karena adanya perasaan bimbang dan kurang percaya diri dalam diri orang tersebut.
Untuk dapat memahami realitas ragu, dalam hal ini penulis hendak mengambil kisah perjuangan tiga orang sahabat nabi yang gugur, pada saat peristiwa perang mut’ah, di mana pasukan muslim pada saat sedang bertempu melawan pasukan romawi. Namun dari ketiga sahabat yang gugur tersebut, ternyata terdapat satu orang yang sempat merasa ragu dalam berjuang di jalan Allah, meskipun pada akhirnya kembali ke jalan Allah dan mati sebagai syuhada.
Dalam buku sejarah nabi Muhammad, karya haekal. Di ceritakan bahwa ketika perang mut’ah bendera umat islam dipegang oleh zaid bin haritsah. Setelah zaid gugur dalam perang, bendera umat islam dipegang oleh jafar bin abi tholib. Kemudian setelah jafar gugur bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Abdullah bin rawahah ini yang kemudian maju dengan membawa bendera itu. Namun ketika maju, sempat terpikir olehnya akan turun saja, ia masih agak ragu, kemudian berkata:
O diriku, bersumpah aku
Akan turun engkau, akan turun
Jika orang sudah berperang
Dan genderang sudah berkumandang
Kenapa kulihat kau masih membenci surga?
Kemudian diambilnya pedangnya dan dia maju terus bertempur sampai gugur.
Abdullah bin rawahah, Zaid dan Jafar mereka telah mati syahiid di jalan allah di satu peristiwa.
Tetapi setelah berita ini diketahui oleh Nabi, ia begitu terharu sekali, terutama terhadap Zaid dan Jafar. Lalu katanya: seperti mimpi orang yang sedang tidur, mereka diangkat kepadaku di surga diatas takhta dari emas. Saya lihat tatkala Abdullah Bin Rawahah agak menyimpang dari kedua temannya itu. Ketika ditanya: Kenapa begitu? Dijawabnya kedua orang terus maju, tetapi Abdullah agak ragu kemudian maju juga.
Dari kisah di atas, dapat dilihat bahwa meskipun ketiga orang tersebut mati syahid di jalan Allah. Namun sikap ragu yang ditampakan oleh Ibn Rawahah, yang meskipun itu hanya sedikit dan akhirnya ia kembali lagi untuk memperjuangkan agama Allah. Ternyata ditempatkan tidak sama dengan Zaid dan Jafar yang menghadapi kematiannya tanpa ragu dalam meperjuangkan agama Allah. Hal itu dapat dilihat dari keterharuan nabi kepada mereka, terutama kepada Zaid dan Jafar yang tidak ragu ketika berperang. Dan memang sudah sewajarnya kedua jika orang tersebut mendapatkan tempat yang lebih baik dibandingkan dengan Ibn rawahah. Karena dari segi pengorbanan yang mereka berikan terhadap agama pun berbeda. Meskipun sama-sama memperjuangkan agama Allah dan mati sebagai syuhada.
Sebagai orang yang memperjuangkan agama islam, tak pantaslah untuk kita bersikap ragu dalam memperjuangkannya. Apalagi kita yang mempunyai cita-cita membagun masyarakat yang yang berlandaskan islam keseimbangan, kita seharusnya memperjuangkan cita-cita tersebut dengan totalitas mengerahkan seluruh jiwa dan raga kita. Dan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kita tidak boleh ragu. Karena ragu bisa dibilang merupakan cerminan dari sikap setengah hati yang kita miliki dalam memperuangkan cita-cita kita. Jika kita ragu atau setengah hati dalam mewujudkan cita-cita kita, besar kemungkinan apa yang kita cita-citakan membangun masyarakat yang thayyibah tidak akan pernah dapat terwujud.
Maka dari itu marilah kita sebagai para agent pembangunan, mengoptimalkan semua kemampuan yang kita miliki dalam mewujudkan cita-cita kita. Karena hanya dengan totalitas dalam berjuanglah kita dapat meraih cita-cita yang kita inginkan, yaitu membangun masyarakat yang thayyibah. Sebagaimana dalam surat Al-Anfal ayat 60, Allah menyuruh kita untuk mempersiapkan segala kemampuan yang kita miliki dalam berjuang, yang berbunyi:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya” (QS Al-Anfal : 60).
Lantas bagaimana cara agar kita dapat mebentengi diri kita dari sikap ragu-ragu? Apalagi jika kita dilihat dari pemaparan pendahuluan diatas, di mana sikap ini ternyata sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Serta dampak negatifnya yang cukup besar terhadap terwujudnya cita-cita pembangunan masyarakat ini, yaitu dapat menghambat bahkan memupuskan harapan untuk dapat mewujudkannya. Maka dalam hal ini penulis memberikan beberapa solusi yang mungkin bisa diterapkan agar kita terbentengi dari sikap ragu-ragu.
Solusi
Memahami kembali hal yang kita ragukan
ketika kita bersikap ragu-ragu dalam mengambil keputusan, dikarenakan kurangnya keprcayaan terhadap apa yang kita ketahui. Dalam hal ini, salah satu solusi agar kita tidak bersikap ragu ialah, memahami kembali hal yang kurang dipercayai oleh kita. Semisal ketika mengerjakan tugas, dimana kita sudah mengerjakannya dengan maksimal, namun terdapat suatu keraguan terhadap pengerjaan kita. Yang membuat kita selalu memikirkan dan mencemaskan pengerjaan tugas yang kita lakukan. Dikarenakan kekurang percayaan kita terhadap hasil pengerjaan yang telah kita lakukan.
Untuk mengatasi pengyikapan ragu-ragu tersebut, kita bisa mengatasinya dengan cara membandingkan pengerjaan kita, dengan prosedur pengerjaan tugas yang benar, yang sebelumnya telah diberikan oleh orang yang memberikan kita tugas, baik itu guru, dosen, dll. Jika sudah sesuai dengan prosedur, maka tidak ada alasan lain untuk kita meragukan pengerjaan tersebut. Jika belum sesuai, maka kita harus mengerjakan kembali pengerjaan kita, agar sesuai dengan prosedur pengerjaan yang telah diberikan.
Bertanya pada ahli
Ketika kita bersikap ragu dalam menentuka suatu pilihan dalam hidup kita, dimana kita tidak mempunyai pengetahuan terkait pilihan tersebut. Maka dalam hal ini solusinya kita bisa bertanya pada orang yang kita anggap memiliki pengetahuna mengenai hal itu, atau bertanya pada ahlinya. Bahkan tidak hanya bertanya kepada ahli saja kitapun bisa mencoba mencari referansi baik dari buku, artikel, dll. Mengenai pengetahuan yang kita cari, agar ketika kita memutuskan kita tidak lagi merasa ragu dalam menentukan pilihan mana yang akan kita ambil.
Mengkritisi persepsi/pemikiran negative
Seseorang yang sering berpikir/berpersepsi negatif dalam kehidupan sehai-hari, dalam memandang suatu realitas, ia hanya memandang sesuatu dari sudut pandang negatifnya saja.
Di mana hal tersebut ternyata dapat menyebabkan ia cenderung untuk bersikap ragu-ragu menentukan atau mengambil sebuah keputusan. Semisal ketika seseorang yang sering berpikir/berpersepsi negative dihadapkan dengan dua pilihan yang harus ia pilih salah satunya. Dalam menetukan pilihannya, ia akan cenderung sukar dan bersikap ragu-ragu. Hal ini dikarenakan dia memandang bahwa setiap pilihan yang ada tidak ada yang baik sama sekali, dan hanya memandang dari sudut pandang negatifnya saja dan menghiraukan hal-hal positif yang ada dalam pilihan tersebut.
Salah satu cara untuk menghindari pemikiran/persepsi negative dalam diri kita ialah mengkritisi setiap pemikiran/persepsi negative yang timbul dalam pikiran kita. Agar kita tidak hanya memandang suatu realitas dari sudut pandang negatifnya saja, namun dari sudut pandang positifnya juga. Buanglah segala pemikiran/persepsi negative yang dapat menghambat kita dalam mengambil keputusan, dan percayalah terhadap keputusan yang kita ambil.
Penutup
Dari pemamparan singkat di atas mengenai sikap ragu-ragu, ternyata sikap tersebut memiliki dampak negative yang cukup besar bagi terwujudnya cita-cita pembangunan masyarakat. Bahkan dapat membuat cita-cita tersebut tidak akan pernah terwujud karena tidak adanya totalitas dalam mewujudkan cita-cita. Selian itu dari kisah sahabat nabi juga dapat kita lihat, betapa Allah sangat menghargai suatu perjuangan yang dilakukan dengan sepenuh hati. Meskipun mereka bertiga telah berjuang dijalan Allah dan mati sahid dalam peristiwa tersebut, ternyata derajat yang mereka peroleh berbeda hanya karena adanya keraguan yang sempat terlintas dalam salah satu sahabat, meskipun mereka sama-sama berjuang dan mati di jalan Allah, dan sangatlah pantas bahwa orang yang tidak bersikap ragu-ragu menjadi kriteria mukmin yang sebenarnya. Karena dengan tidak ragu-ragu seorang mukmin akan dapat mengoptimalkan seluruh kemampuannya dalam melaksanakan misi pembangunan masyarakat yang thoyyibah.
Selain Allah memberikan penghargaan terhadap orang yang tidak ragu-ragu yang terdapat dalam QS Al-Hujurat ayat 15, ternyata Allah juga memberikan sebuah balasan yang sangat berat terhadap orang yang ragu-ragu. Sebagaimana firman-Nya dalam Qaf ayat 24-26, yang berbunyi :
“lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka jahanam, semua orang yang ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas, dan bersikap ragu-ragu, yang menyekutukan Allah dengan tuhan lain, maka lemparkanlah dia kedalam azab yang keras.”
Dari ayat diatas dapat dilihat bahwa betapa besarnya kebencian Allah terhadap orang-orang yang ragu-ragu, bahkan balasan yang diterimanya setera dengan azab yang ditimpakan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu Neraka Jahanam.
Maka dari itu dengan adanya wawasan mengenai sikap ragu-ragu ini, mari kita mencoba untuk membentengi diri kita agar tidak terjerumus dalam sikap yang sangat berbahaya ini, yang dapat memberikan dampak negative yang sangat besar dalam kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat. Dan agar kita dapat menjadi mukmin yang sebenaranya, yang tidak ragu-ragu dan totalitas dalam memperjuangkan cita-cita pembangunan masyarakat yang thoyyibah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar