Senin, 22 Januari 2018

Mengatasi Rasa Cemas ~ Ricky Raharjo

Latar belakang

Dalam konteks zaman yang semakin modern ini, manusia dihadapkan dengan banyaknya persoalan hidup baik dari tingkatan yang sederhana, maupun yang semaki rumit, seperti halnya pekrjaan, peran, dan tugas yang tiada hentinya datang setiap hari, bahkan tak jarang dampak yang ditimbulkan dari kesalah memandang tuntutan tugaas ataupun peran sebagai suatu masalah. Akhirnya muncul stress dan rasa cemas yang melanda diri, karena ketidak mampuan dalam menghadapi masalah dan tantangan hidup. Berangkat dari permasalahan itulah yang melahirkan pribadi dengan kualitas tingkat pejuang yang rendah. Maka dari itu penulis hendak memberikan beberapa pengetahuan dan cara mengatasi rasa cemajs, agar kedepan kita sebagai Mahasiswa yang kelak akan berkarier diinternal atauapun eksternal, mampu mengendalikan rasa tersebut. Dan menghasilkan pribadi dengan semangat pejuang yang tinggi.

Pembahasan

Dari hasil pengalaman setiap individu, tentunya kita semua pernah merasakan pengalaman sensasi rasa baik itu bahagia,sedih,takut ataupun marah dan gelisah/cemas dalam menanggapi suatu peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan kita. Disini penulis tidak hendak memaparkan satu-satu sensasi perasaan melainkan lebih menjelaskan suatu sensasi perasaan cemas, dan tanggapan otak dalam menanggapinya. 

"Oke langsung saja"

Secara definisi dari KBBI cemas adalah perasaan hati yang tidak tenteram karena khwatir atau takut akan suatu hal. Cemas merupakan salah satu bentuk pertahanan diri, ketika otak menagkap suatu hal sebagai masalah yang dapat mengancam diri. Bisa dibilang bahwa Otak menanggapi hal tersebut sebagai bentuk bagian dari pertahanan diri yang secara otomatis muncul dalam menanggapi rangsangan tersebut. Biasanya ketika kita dilanda cemas ada dua perilaku yang kita lakukan, yaitu : 
1. Melarikan diri
2. Menghadapi

Bagaiamana bisa perilaku melarikan diri dengan menghadapi berhubungan dengan rasa cemas ? Kedua perilaku tersbut sebenarnya merupakan perilaku alamiah yang dari dulu dilakukan oleh manusia,sebagai bentuk dalam menanggapi suatu bahaya. Hal ini sangat berguna saat kita harus merespon ancaman yang nyata, bisa dibilang sebagai bentuk dalam mengambil keputusan secara cepat. Hal ini menimbulkan adanya serangan panic, panic merupakan salah satu dari bagian mekanisme cemas, dimana mekanismenya adalah memilih keputusan secara cepat untuk bertahan dari ancaman, sehingga ketika panic melanda kita tidak dapat berpikir dengan tenang. Jika direfleksikan dengan perilaku keseharian kita, perilaku cemas juga berpotensi muncul ketika target belajar kita tidak tercapai atau saat kehilangan suar barang yang penting .

Menanggapi rasa/stimulus tersebut, Otak kita yang memiliki system saraf akan langsung mengirimkan sinyal yang berisi informasi ke dalam Otak. Dapat dikatakan system saraf tersebut-lah yang bertanggung jawab dalam mengambil keputusan dari hasil penerimaan stimulus tersebut untuk menyiapkan tubuh dalan mengambil tindakan, menenangkan dan memulihkan system keseimbangan tubuh, system saraf tersebut disebut system saraf simpatetik dan parasimpatetik.

1. Sistem simpatetik 
Sistem ini bertanggung jawab dalam melepaskan zat adrenaline dari kelenjar yang terdapat pada ginjal. Zat ini berfungsi mengirimkan sinyal kedalam tubuh saat serangan rasa panic dimulai, tidak mudah menghentikan rasa panic atau cemas tersebut, bahkan bisa terus berlanjut dan terus meningkat.

2. Parasimpatetik
Setelah kurun waktu tertentu , system saraf parasimpatetik muncul sebagai reaksi tubuh dalam menanggapi reaksi adrenalin tersbut (Panik), dan perlu dingat bahwa reaksi sistems saraf ini muncul saat kita mengiginkannya. Dalam artian ketika kita mampu mengelola pikiran kita.

Kalian bisa terus berada dalam rasa cemas, namun perlu diingat bahwa system saraf simpatetik pada akhirnya akan berhenti seiring berjalannya waktu dengan pengelolaan pikiran yang stabil.

Meski kesannya terlalu ilmiah, namun kenyataannya inilah bentuk system saraf kita dalam menanggapi rasa cemas. Bahwa system tersebut mampu mencari keadaan seimbang dalam diri agar kita berada dalam kondisi rileks. Namun sangat disayangkan, dari sebagian orang masih saja ada yang berlarut-larut dalam keadaan cemasnya, padahal jika kita meluangkan waktu dan berhenti sejenak untuk berpikir pasti suatu permasalah ada jalannya. Bayangkan saja dala suatu kasus ketika kita dihadapkan dengan rasa cemas dalam menanggapi tugas yang sudah dekat dengan Deadline, kita terus memikirkan ras cemas , loh, lantas kapan selesainya. Disini perlu digaris bawahi bahwa sesuai degan system kerja saraf parasimpatik, bahwansya kita tidak mampu menghilangkan rasa cemas, jika kita tidak membuka ruang untuk berpikir. 

Pada dasarnya tubuh memiliki system keseimbangan, bahkan ketika kita mendapat permasalahan, otak kita akan bekerja untuk mencari jalan keseimbangan agar kembali kepada kondisi yang seharusnya yaitu aman.

Dari pemaparan data diatas, Mungkin opsi melarikan diri lebih baik dilakukan ketika menghadapi bencana alam. Namun untuk permasalahan dalam menghadapi masalah sehari-hari yang tidak mengancam keselamatan jiwa, maka alangkah baiknya kita menghadapinya. Karena ketika kita mengambil pilihan melarikan diri, justru permasalahan kita tidak akan pernah terselesaikan. Bahkan pada waktu tertentu rasa cemas itulah, yang suatu saat akan menghampiri diri kita lagi, seperti permasalahan mengelak dari kesalahan yang kita perbuat, jika kita terus menghindar maka kelak berpotensi kita akan memilki moral pembohong dan kita tidak dipercayai oleh orang lagi. 
Akhir kata cemas hanyalah mekanisme dalam diri kita untuk menghadapi bahaya, namun selama hal yang kita anggap bahaya bukanlah suatu hal yang dapat menghilangkan nyawa kita. Maka hadapilah dengan perencanaan-perencaaan yang matang agar kepercayaan diri semakin kuat dalam menghadapi permasalahan hidup yang kian bertambah. Bukannya kita hendak membangun masyarakat thoyibah bersama, jikalau seperti itu maka marilah kita meningkatkan kualitas diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Penutup

Akhir kata cemas hanyalah mekanisme dalam diri kita untuk menghadapi bahaya, namun selama hal yang kita anggap bahaya bukanlah suatu hal yang dapat menghilangkan nyawa kita. Maka hadapilah dengan perencanaan-perencaaan yang matang agar kepercayaan diri semakin kuat dalam menghadapi permasalahan hidup yang kian bertambah. Bukannya kita hendak membangun masyarakat thoyibah bersama, jikalau seperti itu maka marilah kita meningkatkan kualitas diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar